We Play, Learn and Grow Together
Tuhan memberikan sebuah kesempatan besar dengan mengijinkan aku bertemu dengan kalian semua. Tidak berjalan dengan mulus ketika berhubungan dengan kalian. Namun, suara itu terus memanggil untuk membagikan iman, pengharapan dan kasih kepada kalian semua. Setiap kalian memiliki karakter dan cara pandang yang berbeda. Tetapi,
kalian begitu berharga di mata Tuhan. Setiap kalian itu penting.
Air mata dan doa selalu menyertai kalian. Itulah yang menjadi kekuatan bagiku juga untuk terus bergantung pada-Nya dan mengandalkan sepenuhnya kepada-Nya. Dia terlalu baik bagi kita semua. Terkadang memang terasa itu tidak baik. Namun, iman yang mendorong kita melihat pasti baik di akhirnya. Segala keluhan kalian seringkali membuatku kecewa dengan kalian yang begitu mudah untuk menyerah bahkan mencobanya pun belum. Dimana semangat kalian? Tidak jarang pula kalian memberontak ketika ditegur. Hatimu terbuat dari apa?

Pernah berpikir untuk lelah. Namun, masa depan kalian terlalu berharga untuk menjadi sebuah alasan mengatakan "Lelah". Kalian terlalu berharga. Kata maaf dan terimakasih sempat menjadi sebuah harapan namun apalah artinya kedua kata tersebut dibandingkan dengan kesuksesan hidup yang kalian raih nanti. Bukan kesuksesan uang yang ku maksud, namun kesuksesan hidup. Ya, kalian menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan menemukan panggilan itu dalam hidup mu serta menjalaninya demi sesamamu. Lakukan itu dengan penuh rasa syukur dan sukacita sebagaimana kalian sudah mendapatkannya. Tuhan memberkati kalian semua.
"Marah Menciptakan Jarak"
Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya, "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?"
Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab, "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."
"Tapi..." sang guru balik bertanya, "lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"
Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan.
Sang guru lalu berkata, "Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara ke dua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin

pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."
Sang guru masih melanjutkan, "Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?" Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam namun tak satupun berani memberikan jawaban.
"Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah katapun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."
Sang guru masih melanjutkan, "Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda.
"Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" Ef4:26